Haruskan Owner Turun ke Lapangan


Dahlan Iskan pernah menulis, jika perusahaan ingin maju, owner harus ikut turun mengetahui semua proses di perusahaan tersebut.
Kalau melihat perkembangan beberapa perusahaan yang maju, memang sebagian besar owner perusahaan tersebut ikut terjun di lapangan.
Contohnya James Riady yang berbelanja sendiri di jaringan pasar swalayan Hypermarket, alasannya ingin melihat langsung dan merasakan apa yang dirasakan pengunjung Hypermarket.
Gaya ini juga diterapkan oleh Dahlan Iskan, baik ketika masih di Jawa Pos, di PLN dan sebagai menteri negara BUMN.

Saya sempat berpikir, semestinya owner berada pada tataran visioner, dan pelakunya adalah para direksi dan manajer yang berada di bawahnya. Tetapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa sering terjadi kesenjangan informasi yang disampaikan. Budaya ABS (asal bapak senang) mungkin yang masih melekat di masyarakat Indonesia yang menginspirasi Dahlan Iskan. karena demi terlihat baik di mata owner, maka yang dilaporkan selalu yang baik-baik saja.

Saya sempat merasa harus berlaku demikian. Pola pikir saya mengatakan, seharusnya kita tidak memberikan masalah kepada atasan kita, karena itu sebagai bawahan harus memecahkan masalah itu terlebih dahulu, lalu hal tersebut dicatat dan dilaporkan. Kecuali sesuatu hal yang membutuhkan pengambilan keputusan yang lebih tinggi, untuk itulah kita digaji oleh perusahaan.

Ada satu pemikiran yang cukup menggelitik saya. Bagaimana jika perusahaan itu adalah perusahaan publik, dimana kepemilikan perusahaan dibagi berdasarkan saham yang dimiliki.
Apa yang harus saya lakukan seandainya saya adalah pemilik saham dari perusahaan tersebut?

siap-siap menjadi murid di perguruan kipas merah


Huawei akan mengelola pengoperasian layanan jaringan bergerak 2G maupun 3G milik XL dalam paket Managed Network Service yang diantaranya juga mencakup penerimaan pengalihan sebanyak 1.200 karyawan XL yang akan menjadi karyawan di Huawei.

siap-siap belajar di perguruan kipas merah ya

Apa Susahnya Menulis Blog


Pertanyaan klasik yang selalu ada. Bahkan ada yang lebih suka membaliknya menjadi “Apa mudahnya menulis Blog”
Ide itu seringkali muncul secara tiba-tiba tanpa bisa kita tolak. Tetapi alasan tidak sempat yang selalu muncul.
Hey, bukannya media online untuk update blog kita sudah banyak??
Bahkan lewat Hape pun kita bisa update?
Kalau menurut saya, kesulitannya justru adalah melawan ketidakfokusan.
Sebenarnya, cukup menyediakan waktu limabelas menit saja, kita sudah bisa melakukannya.
Tetapi apa daya, ketidakmampuan melakukan focusing itu yang selalu menjadi kendala.
Jadi, kalau mau mudah, tinggal fokus saja. Itu sudah cukup.

Narsismulogy


Hari gini, istilah narsis seperti makan nasi saja.
Padahal sebenarnya narsis identik dengan penyakit psikis.
Siapa yang tidak mau dipuji? Apalagi berkaitan dengan kesuksesan.
Secara normal, semua manusia pasti ingin mendapat pujian, tentu saja pujian dari orang lain.
Suatu pujian juga bisa disamakan sebagai bentuk eksistensi dirinya. Nah, kalo narsis gimana? Narsis adalah suatu tindakan untuk memuji diri sendiri.
Aneh…. Kenapa memuji diri sendiri? tindakan ini adalah bagian untuk menunjukkan eksistensi dirinya.
Tentu saja tindakan narsis dilakukan di depan orang lain, bukan pada saat sendirian waktu ngaca ato di kamar mandi.
Jadi seberapa parah narsisme kita? Silahkan diukur masing-masing.
-cukup tunjukkan eksistensimu dengan aksi nyata

Menilai Buruk Orang Lain


Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Catatan Kepala: ”Jika Anda menemukan orang-orang yang kurang menyukai Anda. Atau memperlakukan Anda dengan cara yang kurang pantas. Mungkin mereka bukan membenci Anda. Mereka hanya belum mengenal siapa Anda.”
Ada ungkapan tak kenal maka tak sayang. Ada benarnya juga sih, meskipun kadang kita suka merasa ‘sayang’ kepada orang yang tidak kita kenal, ya kan? Perkenalan kita dengan orang lain, bisa berdampak baik. Bisa juga berdampak buruk. Bergantung dengan siapa kita berkenalan. Sampai batas mana tingkat perkenalan kita. Dan, bagaimana kita bersikap terhadap perkenalan yang sudah kita bangun. Dalam interaksi kita dengan orang lain, kita sering mengalami pasang surut. Kadang senang, kadang sedih. Bisa benci, cinta, sayang, sebal. Apapun. Namun, dari sekian banyak dinamika itu; kita sering terjebak untuk memberikan penilaian buruk kepada orang lain. Atau sebaliknya, orang lain yang menilai kita buruk. Padahal, belum tentu penilaian itu benar.
Ketika membawakan sesi training in-house di perusahaan yang meng-hire saya, saya sering mengalami peristiwa seru juga. Kadang ada saja orang yang ‘menilai’ bahwa keberadaan dirinya di ruangan itu sama sekali tidak ada gunanya. Atau, mungkin juga sebenarnya beliau menilai keberadaan saya di ruangan itu yang justru tidak ada gunanya. Hal itu terpancar dari sikapnya. Cara berbicaranya. Bahkan dari caranya memandang kearah saya. Seakan hendak mengatakan; “who do yo think a hell you are!” Diakhir training biasanya orang-orang seperti itu datang menyalami bahkan ada yang memeluk; “Maafkan saya Pak….” Bisiknya. Saya sendiri percaya bahwa tidak ada yang harus dimaafkan. Tidak ada yang salah kok. Tetapi, kadang saya mendengar ucapan tulus yang mengakui jika sebelumnya beliau salah sangka atau under-estimate pada saya. Soal ini, mungkin kita semua pernah melakukannya. Saya dan Anda pun bisa jadi pernah demikian. Namun, kesadaran seperti inilah yang justru bisa menjadikan kita pribadi yang lebih baik.  Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjadi pribadi yang lebih baik melalui interaksi dengan orang lain, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
1.      Setiap orang memiliki sisi baik. Sesebel-sebelnya kita kepada seseorang, hal itu tidak menjamin jika diri kita lebih baik dari orang itu. Jika tidak keberatan, silakan ingat-ingat; siapa orang yang paling tidak Anda sukai? Anda tentu mempunyai alasan untuk membencinya. Tetapi, sebaiknya sesekali Anda berkaca kembali kedalam diri; apakah diri kita tidak memiliki sesuatu yang bisa menjadi alasan bagi orang lain membenci kita juga? Jika sampai sekarang semua orang masih menyukai Anda, bukan berarti Anda sempurna. Mungkin karena mereka belum pernah Anda kecewakan. Mungkin diantara Anda ada orang yang pernah saya kecewakan. Saya yakin orang itu tidak menyukai saya. Tetapi, saya yakin benar jika sebagian besar orang yang membaca tulisan ini tidak membenci saya. Mengapa? Karena saya baik? Bukan. Itu karena mereka belum ‘merasakan’ efek dari keburukan saya. Kepada saya, mungkin ada yang benci. Tapi, ada juga yang sayang. Yang sekarang sayang pun, besok bisa ikut membenci; jika dia tahu ‘belangnya’ saya. Selain menunjukkan bahwa kita ini sama tidak sempurnanya dengan mereka yang kita benci, juga menujukkan bahwa diantara keburukan setiap orang; selalu terselip kebaikan mereka. Maka tantangannya adalah; bagaimana kita bisa semakin mengasah dan mengkilapkan sisi baik itu, sehingga sisi buruk kita semakin meredup. Kabar baiknya, itu adalah proses. Jadi kita bisa melakukannya terus menerus.
2.      Memahami sebelum memvonis. Apa yang Anda lakukan jika ada orang lain yang salah sangka kepada Anda? Orang itu keliru menilai Anda. Tentu Anda akan berusaha untuk memberikan penjelasan atau mengklarifikasinya, bukan? Kita semua akan berusaha meluruskan penilaian orang lain yang keliru tentang diri kita. Begitu pula halnya dengan orang lain yang kita nilai buruk, akan berusaha untuk membuat penilaian kita berubah menjadi baik. Mengapa? Karena tidak seorang pun dimuka bumi ini yang rela dinilai buruk. Kita memiliki kebutuhan intrinsic untuk dinilai baik, dan diterima oleh lingkungan secara baik-baik. Apa yang terjadi ketika Anda menjelaskan ‘yang sebenarnya’? Orang lain akan memahami Anda. Apa yang terjadi ketika orang lain menjelaskan ‘duduk perkaranya’? Anda akan memahami mereka. Lalu, jika sudah ada pemahaman yang tepat itu apakah Anda masih akan menvonis orang lain sebagai orang yang buruk? Ah, tentu tidak. Karena sekarang Anda sudah memahami ‘apa yang sebenarnya’. Bahkan kepada seseorang yang nyata-nyata berbuat kesalahan pun kita bisa memakluminya jika kita memahami ‘mengapa’ mereka sampai melakukannya kan? Kita memaafkannya, meski dengan catatan; ‘jangan mengulanginya lagi’. Atau ‘lain kali kamu minta izin dulu dong…’. Atau, ‘kenapa kamu tidak terus terang sih sama saya?’ Maka mulai sekarang, kita perlu mendahulukan proses ‘memahami’, supaya tidak sembarangan ‘memvonis’ orang lain.
3.      Waspada terhadap perilaku yang membahayakan.  Meski kita percaya bahwa setiap orang memiliki sisi baik, namun kadang-kadang orang bertemu dengan kita dalam keadaan ‘buruk mode on’. Kalau sekedar buruk perilaku, mungkin kita bisa memakluminya. Tetapi, kalau buruknya bisa membahayakan, ya tentu kita harus bisa melindungi diri. Maka kewaspadaan tetap menjadi piranti yang sangat penting. Justru berbahaya sekali jika kita tidak waspada. Bukan curiga loh, tapi waspada. Bahkan terhadap teman sekalipun. Bukankah banyak kejadian yang membahayakan justru datang dari orang-orang terdekat kita? Istri waspada pada suami yang ringan tangan juga bagus. Atau, suami yang waspada pada istri yang tingkahnya aneh. Kepada teman yang terlalu royal, Anda juga perlu waspada. Karena kewaspadaan bisa  mencegah terjadinya sesuatu yang tidak baik. Konon katanya, para pencopet pun tidak berani mengusik orang yang waspada. Ya, kira-kira begitu jugalah untuk keburukan-keburukan lain yang bisa saja dilakukan oleh orang lain kepada kita. Dengan kewaspadaan itu, kita tidak memandang buruk orang lain. Tetapi juga tidak lengah terhadap kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
4.      Keburukan bisa menjadi guru kebaikan. Jika seseorang melalukan perbuatan buruk, bukan kepada Anda; apa yang Anda lakukan? Teman saya misalnya, sangat benci sekali kepada seseorang. ‘Emangnya apa yang sudah dia lakukan sama elu?’ begitu saya bertanya. “Enggak ada.” Katanya. Lho? Aneh ya? Kita membenci orang lain yang tidak melakukan apapun pada kita. “Gue semek aja sama kelakuannya,” katanya lagi. Kita sering membenci pribadi seseorang bukan karena mereka mengusik diri kita. Apa urusan kita, kan? Anda boleh memberi perlawaan kepada orang-orang yang memperlakukan Anda buruk. Tetapi pada orang yang tidak mengusik Anda? Jikapun orang itu perilakunya buruk kepada orang lain, maka cukuplah kita jadikan hal itu sebagai guru untuk meningkatkan nilai kebaikan kita. Misalnya, jika Anda tidak suka perilaku buruk tertentu teman Anda, maka Anda punya cermin agar jangan sampai melakukan keburukan yang sama. Coba perhatikan orang-orang disekitar Anda. Banyak yang perilakunya kurang baik. Menggunakan BB untuk merayu istri orang. Meminjam uang tapi ogah bayar. Mencedrai kepercayaan pasangannya. Mengambil yang bukan haknya. Kita tidak perlu ikut membenci pribadi mereka. Tetapi, kita bisa jadikan keburukan-keburukan yang mereka lakukan sebagai pelajaran dan energy yang menguatkan kita untuk istikomah atau teguh dalam nilai-nilai kebaikan.
5.      Bukan kita yang berhak menilai. Bahkan para penyidik dan jaksa pun bisa salah dalam menilai orang lain. Apalagi yang memang sengaja dibuat salah atau diputarbalikkan faktanya. Kita? Lebih bisa salah lagi dalam menilai. Faktanya kita tidak memiliki kemampuan untuk menilai secara obyektif dan akurat, kok. Makanya, kita tidak diberi hak untuk menilai orang lain. Jika bukan kita yang menilai lantas siapa yang mengontrol perilaku orang? Kenapa pusing. Sudah ada staff khusus yang ditugaskan Tuhan untuk melakukan pengawasan melekat atas perilaku, tindak tanduk, dan tingkah polah setiap pribadi. Tuh, disebelah kanan Anda; Ada petugas pencatat amal baik. Dan disebelah kiri Anda? Ada petugas yang tanpa kompromi menulis keburukan apapun yang Anda lakukan. Mereka tidak pernah lengah. Bahkan disaat semua orang sedang pada tidur. Jadi, jika kita merasa bisa menunggu orang lain lengah baru melakukan tindakan buruk, kita salah besar. Jika kita merasa bisa menyembunyikan barang bukti, kita keliru. Oh, betapa petugas yang Tuhan pilih itu tidak pernah henti mengawasi gerak-gerik kita. Hal ini memberi kita 2 kesadaran. Pertama, betapa kita tidak memiliki ruang untuk berbuat buruk tanpa ketahuan. Kedua, betapa kita tidak memiliki hak untuk menilai baik buruknya orang lain. Maka, jika orang lain buruk, tak perlu pusing; dia akan mempertanggungjawabkan keburukannya. Dan jika kita yang buruk? Ehm, orang lain mungkin tidak tahu. Tapi petugas jaga Tuhan? Menyaksikan hingga setiap detailnya.
Bagaimanapun juga, interaksi kita dengan orang lain merupakan sebuah proses yang berjalan dua arah. Karenanya, sebuah hubungan yang baik tidak bisa dibangun hanya oleh salah satu pihak. Jika Anda menemukan orang-orang yang kurang menyukai Anda. Atau memperlakukan Anda dengan cara yang kurang pantas. Mungkin mereka bukan membenci Anda. Mereka hanya belum mengenal siapa Anda. Maka, menunjukkan nilai-nilai positif didalam diri Anda merupakan sebuah kebutuhan. Oleh karenanya, kita perlu belajar mendorong diri kita sendiri untuk terus memperlihatkan sisi baik yang kita miliki. Bukan untuk menyembunyikan sisi buruk, melainkan untuk selalu berusaha mengambil pilihan-pilihan yang baik, meski sesungguhnya kita berkesempatan untuk melakukan hal buruk. Semoga, dengan begitu kita bisa menjadi pribadi yang tetap baik. Sekalipun kita semua memiliki sisi buruk. Dengan demikian, kita memiliki kesempatan untuk mendapati buku catatan amal kita lebih banyak berisi kebaikan daripada keburukan.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 07 Desember 2011
Trainer of Natural Intelligence Leadership Training
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (Tahap dummy di penerbit)
Catatan Kaki:
Apakah seseorang itu baik, atau terlihat baik? Bukan kita yang tahu. Melainkan yang Maha Tahu.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman

Sang Juara Safety 5: Janji Safety di Awal Tahun


Para karyawan perusahaan ini diminta untuk menandatangani sebuah perjanjian safety di setiap awal tahun.

Artikel ini adalah lanjutan dari seri artikel yang membahasa salah satu “Juara Safety” dari 12 Perusahaan (yang kali ini untuk periode tahun 2011) dengan kategori America’s Safest Companies in 2011 versi EHS Magazine.

EnPro Indutries adalah perusahaan di Amerika Serikat yang bergerak dalam produksi dan pemasaran berbagai segel untuk kepentingan industri dan pekerjaan berat, komponen kompresor, serta mesin diesel. Perusahaan dengan 5000 karyawan yang beroperasi di wilayah Amerika Utara, Eropa dan Asia ini sudah menjadi salah satu “Juara Safety” versi EHS Magazine untuk kedua kalinya.

Berikut ini adalah poin poin mengenai kondisi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di EnPro Indutries:

· Setiap permulaan awal tahun, setiap karyawan diminta untuk berkomitmen terhadap K3 di perusahaan dalam bentuk penandatanganan sebuah surat perjanjian yang berisi pernyataan diri:

” Saya berjanji bahwa saya pribadi akan ikut berperan serta dalam menciptakan tempat kerja yang bebas dari kecelakaan kerja. Dedikasi saya dalam menciptakan tempat kerja yang bebas dari kecelakaan kerja adalah mutlak dan secara nyata akan selalu dibuktikan dalam setiap perilaku kerja saya “.

· “Safety adalah sebuah nilai inti. Kami melihat bahwa setiap kecelakaan kerja dapat dicegah dan motivasi kami tidak lain adalah tulus untuk kesejahteraan semua orang. Visi utama kami adalah sebuah budaya dimana setiap karyawan saling menjaga dan mengingatkan di tempat kerja tentang K3 antara satu sama lainnya serta membawa budaya K3 mereka hingga ke rumah” (Steve Macadam ,CEO EnPro Indutries.)

 

· “Surat Perjanjian Safety yang ditandatangani para karyawan adalah bentuk parisipasi mereka untuk memperbaharui komitmen pribadi dan publik terhadap K3. Secara berkelanjutan kami selalu mencari berbagai cara untuk meningkatkan kepedulian kami terhadap K3. Bahkan setiap karyawan baru segera kami perkenalkan etika K3 di perusahaan kami. K3 digalakan untuk menciptakan tempat kerja yang luar biasa. ” (Joe Wheatley, director of risk management and EHS affairs)

 

· “Kami ingin membuat proses mengenali potensi bahaya menjadi mudah bagi para karyawan. Perusahaan kami melakukan proses membengkokan, memotong dan menggerinda besi dengan kunci kebiasaan kami yaitu “Jangan Rasakan Besinya”. Jika karyawan menyentuh besi, berarti mereka ada dalam resiko bahaya dan zero injuries adalah tujuan utama kita” (Erin Rafter, EHS Project Leader)

 

· Sebagai bagian dari budaya K3 EnPro, perusahaan mengadakan Kids Safety Day, dimana anak anak karyawan melihat langsung pekerjaan orang tua mereka dan melakukan identifikasi potensi bahaya untuk lebih memberikan semangat agar orang tua mereka pulang ke rumah dengan selamat.

 

· Manajamen EnPro juga mengkomunikasikan praktek K3 terbaik seperti dalam hal kebijakan berpakaian untuk karyawan maupun tamu perusahaan yang meliputi penggunaan kacamata safety berstandar ANSI, penggunaan sepatu safety berlapis besi di ujungnya, melepaskan semua perhiasan yang melekat di tubuh, tidak boleh ada pakaian yang terlalu longgar sehingga menjuntai, mengikat rambut yang terurai melebihi bahu, dll.

Semoga para rekan Pro Safety dapat terinspirasi.

Salam Safety untuk Anda dan Keluarga di Rumah

Sumber: lorco.co.id dan diadaptasi juga dari berbagai sumber

Web EnPro Industries dapat dilihat di : http://www.enproindustries.com/

(Silahkan membagikan artikel ini dengan syarat mencantumkan sumber aslinya)

By Kang Aa Widi Safari

Management by Objectives (MBO) by Vincent Gaspersz


Management by Objectives (MBO) atau Manajemen Berdasarkan Tujuan adalah proses menentukan tujuan-tujuan strategik dalam sebuah organisasi sehingga manajemen dan karyawan setuju dengan tujuan-tujuan itu dan memahami apa yang perlu dilakukan dalam organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan strategik yang telah ditetapkan dan disetujui itu. Istilah Management By Objectives (MBO) pertama kali dipopulerkan oleh Peter Drucker pada tahun 1954 melalui bukunya yang berjudul: ‘The Practice of Management’ .

Management by Process atau lebih populer dengan nama manajemen proses (Process Management) adalah aktivitas-aktivitas perencanaan, pemantauan, dan pengendalian kinerja proses. Istilah ini biasanya mengacu pada manajemen proses bisnis dan proses manufaktur.

Manajemen proses merupakan aplikasi pengetahuan, keterampilan, alat, teknik dan sistem untuk mendefinisikan, memvisualisasikan, mengukur, mengendalikan, melaporkan dan memperbaiki proses dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan meningkatkan kepuasan terus-menerus.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka manajemen berdasarkan tujuan (MBO) dan manajemen proses dapat digunakan secara saling melengkapi satu sama lain.

Pertama kali kita menetapkan tujuan-tujuan strategik organisasi menggunakan konsep-konsep perencanaan strategik dan penyebarluasan tujuan-tujuan strategik itu ke seluruh organisasi. Dalam konteks ini pendekatan manajemen berdasarkan tujuan-tujuan (MBO) dapat diterapkan.

Selanjutnya kita menerapkan manajemen proses (Process Management) untuk mengelola proses agar kinerja dari proses itu dapat mencapai target-target sesuai yang telah ditetapkan dalam tujuan-tujuan strategik organisasi itu.

Demikian informasi, mudah-mudahan menjadi jelas.

Salam,

Vincent Gaspersz
Lean Six Sigma Master Black Belt