Apa yang akan merubah diri kita


Yes, siapa yang tidak mau sukses. Hampir dipastikan tidak ada. Hampir semua orang yang kita temui selalu menyampaikan keinginan yang kuat untuk sukses. Namun jalan kesuksesan itu seakan berliku, tidak semulus apa yang diinginkan.

Menurut saya, sebuah kesuksesan tidak dapat diraih dengan hanya keinginan melalui mulut. Kesuksesan harus tergambar dengan nyata. Harus diiringi dengan doa dan tirakat yang kuat.

Betul, nasib sangat menentukan. tetapi tahukah anda bahwa nasib adalah kumpulan kepingan kesuksesan yang terjalin, dan woolaaaa, tiba-tiba nasib anda berubah.

Menggambarkan kesuksesan tidak semudah dengan sekedar ucapan. Perlu perubahan mindset karena jelas akan terjadi revolusi di diri anda. Tinggalkan yang sekarang dan tatap kesuksesan itu di depan mata dan benak anda. Yakinkan, yes… kita akan menapaki jalan ini satu persatu. Tidak peduli seperti apa jalannya. Yakinkan hanya tujuannya, kita tidak akan pernah merasakan seberapa terjal jalan ini.

Hidup adalah pilihan, dan pilihan kita adalah hidup dengan sukses.

www.arthanugraha.com

Advertisements

Keyakinan itu harus pasti


Suatu saat di suatu tempat yang dilanda kekeringan, sang tokoh agama mengajak umatnya di tempat itu untuk mendoakan agar daerah tersebut mendapatkan hujan pada seminggu ke depan.

Pada pertemuan berikutnya di minggu berikutnya, sang tokoh agama bertanya kepada umatnya apakah mereka sudah mereka sudah mendoakan agar meminta hujan. Semua umat menjawab sudah. Sang tokoh agama sekali lagi bertanya, apakah mereka berdoa dengan sungguh-sungguh? Mereka menjawab bahwa mereka sudah mendoakan setiap saat dengan sungguh-sungguh.
Mendengar hal tersebut, maka murkalah tokoh agama itu, ia berteriak kepada umatnya “kalian sama sekali tidak berdoa dengan sungguh-sungguh, buktinya pada hari ini tidak ada satupun yang membawa payung”

Yes, iman keyakinan terkadang sangat gampang untuk diucapkan. Bahkan dipoles dengan simbol-simbol agama. Tapi aktualisasi diri atas iman itu justru malah samar.

#menyadur dari the Secret
http://www.arthanugraha.com

Berbeda tapi Sama


Pelajaran berharga pada saat pemilihan Capres kemarin adalah ketika hanya ada dua pilihan, maka perbedaan begitu tajam. Sebetulnya ada pilihan ketiga, yaitu memilih untuk tidak memilih.
Mari belajar untuk tidak dengan mudah mengata-ngatai orang, menyebarkan kabar yang bahkan kita sendiri tidak tahu, hanya dari katanya dan mengcopy berita dari situs-situs tertentu, itupun bukan hasil dari browsing kita sendiri.
Jangan buta terhadap pilihan kita. Pertimbangkan baik-baik, kita akan menjadi sangat bodoh jika membela mati-matian calon presiden kita. Ingat… ini hanya soal memilih Presiden. Partisipasi politik kita cukup hanya sampai di bilik suara saja.
Jangan berharap setelah itu suara anda di dengar.
Jika anda ingin berjuang di politik, mulai sekarang siapkan hati dan jiwa anda. Pilih partai yang sesuai dengan hati nurani anda, yah yang kira-kira pemilu tahun 2019 bakal dapat kekuasaan. daftar dan jadi anggota partai, ikut pendidikan kader partai, siapa tahu 2019 anda bakal masuk calon legislatif. Kalau mau berjuang di Senayan ya pilih yang kira-kira bisa mendudukkan kita di DPR-RI.
yups belum terlambat kawan. Percuma ngomong politik di media sosial kalau anda tidak paham apa sebenarnya politik.
so… hentikan omong kosong kamu di media sosial. perjuangkan idealisme politik yang katanya kamu punya.
Tapi kalau kamu hanya memikirkan perutmu saja, atau kira-kira Presiden yang baru ini akan membawa ke arah yang lebih baik, itu namanya pragmatisme. Gak perlulah kau ngomong-ngomong politik sana-sini. Kerja aja yang bener guys. Fokus pada apa yang kamu kerjakan hari ini, entah pekerjaanmu, entah profesimu. Niscaya, kamulah yang akan merubah negara ini, karena sebenarnya kamulah agen perubahannya, bukan Jokowi ataupun JK

Dan macet di mana-mana


Inilah event tahunan, di mana uang sudah mulai digelontorkan.
Dan jalan di sekitar pusat perbelanjaan padat, penuh dan macet. Lembaran uang berganti baju, sepatu.
Toko-toko berhiaskan discount, berusaha berperang dengan alam bawah sadar manusia.
Parkir macet, jalanan sekitar macet. Semua terbayarkan dengan baju-baju itu.
Terasakah ini itu menjadi murah.
Tas-tas belanja segera memenuhi kiri kanan tangan-tangan manusia.
Ayo kita serbu, pesta ini hanya sekali.

Quick Count dipercaya atau Tidak


Setelah gaduh kampanye capres, sekarang gaduh quick count.

ada 2 kubu yang mempunyai hasil berbeda, tapi ya wajar, capresnya memang cuma 2. jadi kemungkinannya kalau gak calon nomer satu yang unggul, ya yang nomer 2.

Dugaan hasil riset pesanan dituduhkan oleh masing-masing pihak.

Quick Count adalah salah satu riset yang dipakai untuk melihat hasil dengan cepat. Berdasarkan metode riset tertentu, ada beberapa persyaratan mengenai proses ini. misalnya penentuan populasi, pengambilan sampling dari populasi tersebut dan variabel serta indikator yang akan digunakan. Selain itu ada taraf signifikansi atau prosentase error yang diijinkan.

Dalam kasus Pilpres ini, populasinya jelas jumlah TPS seluruh Indonesia, lalu penentuan sampling berdasarkan prosentase tertentu yang dianggap valid dan reliable oleh lembaga riset. dan penentuan margin errornya.

Dari prosedure tersebut, saya memastikan bahwa semua lembaga riset pasti mengikuti pola tersebut. Yang menjadi pertanyaan mengapa angkanya berbeda antara lembaga riset satu dengan yang lain. Perbedaan ini valid, karena ada variasi antara lembaga riset satu dengan yang lain, misalnya penentuan sampling.

Ketepatan hasil riset adalah dambaan setiap peneliti. Karena itu mereka pada saat awal benar-benar berjuang untuk menentukan metodologi yang paling mendekati realitasnya. tentu jika hasilnya meleset akan dilakukan analisa ulang, apakah karena masuk ke dalam margin error atau ada hal lain yang tidak tercover.

hal yang paling gampang misalnya kamu hari minggu berencana wisata ke pantai. sebelum berangkat untuk memastikan cuaca, sehari sebelumnya melihat ramalan cuaca yang dikeluarkan BMKG. di situ tertulis cuaca cerah, dan kamupun Β esoknya berangkat. Yang terjadi tiba-tiba hujan deras. Kejadian ini berulang di minggu depannya. Kira-kira apakah kamu masih mempercayai ramalan cuaca dari BMKG ini? yups, itulah kredibilitas dari lembaga riset. Karena itu tidak mungkin lembaga riset akan mempertaruhkan kredibillitasnya untuk bayaran tertentu dan mengarang hasil risetnya.

Jadi sebaiknya jangan menjudge sesuatu dahulu. Riset adalah kegiatan ilmiah, dan buat apa kita membayar mahal suatu hasil riset kalau angkanya hanya dibuat-buat.

Anda yang bangga dan gagah berani


Yups saya akan berbicara anda, yang menjadi simpatisan, relawan atau malah militan terhadap partai tertentu.
Anda warga negara yang bukan pengurus partai, anggota partai tertentu dan underbownya atau politikus.
Ya kamu…
Tahukah kamu kenapa dulu kita mengenal asas LUBER untuk pemilu dan mengandung kata rahasia…
Ada sejarah kelam yang membuat asas tersebut disampaikan.
Pada awal demokratisasi didirikan oleh founding father kita, dan pesta demokrasi pertama dilaksanakan pada tahun 1955 yang diikuti oleh 29 partai dan ada juga secara perseorangan. Masyarakat Indonesia terpolarisasi begitu kuatnya. Partai berdiri berdasarkan agama, kesukuan maupun kedaerahan.
Dan terpilihlah pemenang-pemenangnya.
Saya menyoroti satu partai yang berhasil menduduki posisi lima besar, yaitu Partai Komunis Indonesia atau PKI.
Sebagian dari kita miris mendengar kata itu, ya benar sepanjang 18 tahun saya hidup, saya diberikan pemahaman bahwa PKI itu kejam, tidak beragama, tukang silet-silet wajah, tukang culik. Dan filmnya setiap tanggal 30 september selalu diputar tak lebih dari lakon John Kruger yang kejam.
Apakah ada yang salah dengan PKI, ada yg bilang kesalahannya adalah melakukan pemberontakan.
ya itulah sejarah….
Tapi akibatnya adalah apapun yang berhubungan dengan PKI maka ktp anda akan ada cap ET atau eks tapol, plus setiap bulan wajib lapor ke koramil dan anak cucu anda akan mengalami litsus waktu mencari kerja atau minta surat keterangan berkelakuan baik dari kepolisian, padahal anda hanya tukang rokok yang biasa mangkal di depan kantor PKI.
Jangan bilang itu terjadi jaman orde baru ya, hayo ngaku siapa yang share link ada capres yang bapaknya PKI plus ada foto bendera PKI di backgroundnya.
PKI dijadikan simbol traumatis bangsa, bahkan kamu baca buku Das Kapital nya Karl Marx aja pasti ditiduh PKI.
Oke saya kembali ke topik awal, bagi saya tidak masalah jika kita mendukung capres pilihan kita, sama persis halnya pada saat pemilu 1955 orang mendukung PKI. Menurut anda apakah tragedi sejarah bisa terulang kembali atau tidak.
Mari kita bijaksana dalam mendukung.

Pencitraan diri


Politik pencitraan….
Kata populer beberapa saat lalu. Ditujukan kepada hal yang dilakukan untuk memanipulasi suatu keadaan pada diri seseorang agar mendapatkan pandangan/pemahaman/stigma tertentu yang diinginkan.
Dibuat-buat…. bisa jadi. Atau juga hanya perlu memoles sedikit karakter seseorang. Intinya adalah apa yang ingin dilihat orang dari kita.
Pencitraan ini sangat perlu, saya tidak berbicara hanya untuk para selebritas saja(politiikus,artis) tapi juga bagi diri kita.
Maka bukan satu hal yang jelek melakukan pencitraan, karena proses ini menurut saya harus dilakukan. Atau anda tidak perdulipun melakukan pencitraan bahwa anda ingin dinilai orang sebagaimana apa adanya.
Kritikan terhadap proses pencitraan adalah di sisi rekayasa dan manipulasi citra tersebut. Rekayasa dilakukan dengan cara meminta sebagian orang untuk mempopulerkan citra dirinya. Hal ini wajar, terutama bagi yang berada di panggung selebritas.
So… jika ada yang masih bingung dan mencibir tentang rekayasa pencitraan, tidak perlu ragu bahwa semua orang perlu pencitraan diri.